jump to navigation

SALAH “KONSUMSI INFORMASI GIZI” DAPAT MENJADI SUMBER MASALAH GIZI YANG BARU Juni 30, 2012

Posted by gafuri46 in gizi.
Tags: , ,
trackback

image

Informasi (dan misinformasi) sedikit demi sedikit sampai pada kita melalui rumor, kabar burung, iklan, artikel populer oleh wartawan…dokter yang tidak terdidik dalam nutrisi dan ”ahli-ahli” industri (Dr.Udo Erasmus, Fats that Fats that Kill). Kemudahan penyebaran informasi dijaman global ini sudah tidak diragukan lagi, persoalannya adalah belum tentu semua informasi itu benar dan pemahaman penerima informasi terhadap sebuah informasi bisa juga terjadi kesalahan termasuk dalam hal ini informasi dibidang gizi.

Banyaknya informasi gizi baik melalui media cetak elektronik, selebaran dll bahkan layanan SMS khusus gizi , kemudahan akses informasi melalui Internet jika kita tidak waspada dan informasi yang diperoleh langsung ditelan ”mentah-mentah” dapat berujung menjadi sumber masalah gizi baru. Kutipan pernyataan Dr. Udo Erasmus seperti pada pembukaan tulisan ini perlu dipahami sebagai suatu peringatan bahwa tidak setiap informasi khususnya bidang gizi selalu benar, tetapi sayangnya fakta menunjukkan misinformasi tidak disengaja dan misinformasi yang disengaja saling menguatkan sehingga dapat mengakibatkan masyarakat terjerumus dalam ”kubangan” kesalahan praktek gizi sehingga menjadi sulit memberantas masalah gizi dalam masyarakat.

Dengan berbekal pengetahuan yang memadai dalam Dasar ilmu (basic science) Gizi maupun Terapannya (Appllied science) kejadian misinformasi yang dapat berujung pada timbulnya masalah gizi dapat diminimalisasi bahkan dapat memecahkan berbagai problema gizi yang selama ini masih menyelimuti wilayah Republik Indonesia tercinta ini, karena telah banyak rakyat menderita masalah gizi karena misinformasi contohnya berapa banyak tenaga biaya dan waktu yang dikeluarkan gara-gara mengikuti suatu program diet atau mengkonsumsi suatu produk untuk menurunkan berat badan dan yang terjadi bukan lemak tubuh yang berkurang tapi justru otot yang digerogoti sehingga berakibat menjadi lemah dan mudah sakit , berapa banyak uang yang dialirkan hanya sekedar menjadi ”kencing” karena mengkonsumsi suplemen gizi yang sebenarnya belum tentu memerlukan bahkan dapat berakibat masalah gizi baru berkaitan dengan dampak interaksi antar zat gizi.

Dalam komunikasi ada tiga faktor penting bagaimana sebuah informasi itu sampai yaitu Sumber Informasi, Cara dan Pembawa Informasi serta Penerima Informasi. Kejadian misinformasi dapat terjadi pada tataran sumber informasi yang memang tidak dapat dipertanggung jawabkan, pembawa pesan yang salah menyampaikan karena kemampuan yang terbatas pada bidang gizi dan penerima informasi yang kurang dapat memahami suatu informasi sehingga salah dalam menafsirkan informasi yang diterima. Sebagai ilustrasi sebuah informasi gizi akan lebih bisa cepat diterima jika dikemas dalam suatu kemasan menarik dan disampaikan oleh seorang public figure meski public figure sendiri tidak pernah mendapat pendidikan gizi secara memadai. Contoh konkret adalah bagaimana resep diet seorang artis yang cantik, berkulit halus dan berbadan langsing serta padat berisi, sang artis akan bercerita pengalamannya misalnya karena makan atau mengkonsumsi ini dan itu yang pada akhirnya gaya diet sang artis akan ditirunya tanpa tahu atau bahkan ”tidak mau tahu” apakah informasi itu benar atau salah karena merasa yakin melihat bukti penampilan artis tersebut yang sebenarnya dari ”sononya” sudah cantik dan langsing. Pada tataran masyarakat ilmiah yang mempunyai pendidikan yang cukup tinggi dan biasanya selalu berfikir berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah misinformasi pun masih dapat terjadi.

Saat ini dalam dunia kedokteran muncul terminologi populer ”Evidence Based Medicine”(EBM). Mengapa muncul EBM? Standar yang diterima di negara-negara maju, keputusan klinis dokter harus didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal kedokteran dan kesehatan. Problemnya jumlah publikasi sekarang sangat banyak selain keterbatasan waktu dan kemapuan ”menelan” seluruh informasi maupun memilah informasi yang valid dan tidak valid dari berbagai penelitian. Jadi meskipun dalam suatu artikel ilmiah apalagi ilmiah populer yang biasa diterbitkan dalam media massa baik cetak maupun elektronik masih perlu diteliti kebenarannya begitu juga hasil-hasil penelitian dalam bidang gizi.

Perlu diketahui EBM sendiri sebenarnya telah ”dipersenjatai” dengan seperangkat metode agar dapat digunakan memilah dan memilih informasi yang bernilai paling tinggi, jadi kemampuan memilah dan memilih itu yang harus dimiliki oleh sumber/pembawa informasi dan juga penerima informasi. Bahkan secara tegas Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Israa” 36 ” Dan Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…”

Agar tidak terjerumus dalam misinformasi khususnya dalam bidang gizi (diet) dan makanan ada 8 ”pedoman sederhana” yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengadopsi suatu informasi seperti yang diutarakan oleh Prof.dr. Bambang Suprapto, M.Med. Sci R. Nutr, Sp.GK Seorang dokter Spesialis Gizi Klinik dan merupakan Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Surakarta yaitu:
1. Makanan terdiri dari banyak substansi, tidak hanya zat gizi
2. Makanan dan komponennya merupakan kesatuan dan memiliki berbagai fungsi dan efek fisiologis pada kadar yang berbeda
3. Bila satu komponen diteliti sendirian, pengaruhnya dapat berbeda dengan bila ia diteliti bersama dengan komponen lain didalam makanan alamiah
4. Satu zat gizi mungkin mempunyai lebih dari satu fungsi dan fungsi-fungsi ini mungkin mempunyai pengaruh berbeda terhadap outcome yang diteliti
5. Kebutuhan zat gizi mungkin sangat berbeda untuk pertumbuhan, usia lanjut, kehamilan dan keadaan infeksi
6. Zat gizi yang diteliti dapat mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap penyakit
7. Pengaruh satu zat gizi dapat berbeda akibat kadar yang berbeda dari zat gizi lain.
8. Asupan makanan tidak sama dengan ketersediaan biologik

Bagi para ilmuwan Ingatlah peringatan Karl Popper seorang Epidemiolog yang terkenal ”A theory is scientific if it is falsifiable” bahwa suatu teori dapat dikatakan ilmiah jika siap disalahkan. Jadi bagi ”Praktisi Gizi” hendaknya selalu mengikuti perkembangan terbaru ilmu gizi karena perubahan di era informasi dan komunikasi dengan Postulat ilmu dari ”bio selular” menjadi ”bio molekuler” menuntut untuk selalu belajar dan belajar sehingga apa yang disampaikan selalu relevan dengan temuan-temuan ilmiah terbaru ”up to date” dan benar-benar dapat dipertanggung jawabkan, jangan sampai apa yang disampaikan sudah kedaluwarsa ”expired”. Untuk perusahaan produsen makanan atau produk diet hendaknya memberikan informasi yang sejelas jelasnya ”detail” kepada calon konsumen. Jangan sampai hanya diberikan informasi yang positifnya saja ”bias publikasi” sedang yang negatif ditutup-tutupi sehingga ketika calon konsumen memilih produk tersebut benar-benar tahu terhadap untung rugi akibat pilihannya tersebut.

Bagi masyarakat awam yang ingin tahu kebenaran bertanyalah pada Ahlinya yang benar-benar mempunyai kapabilitas dan kredibilitas serta jujur terhadap ilmu, yakni menyampaikan ilmu apa adanya tanpa harus mempertimbangkan kepentingan pribadi atau kepentingan sesaat lainnya.

Sumber Gerakan sadar gizi
Sumber pict disini

Posted from WordPress for Android

Komentar»

1. affanibnu - Juni 30, 2012

salam hangat dan sukses selalu..😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: